Cerita Sahabatku

Sebut saja nama saya Boy dan ini adalah pengalaman hidup saya.

Pengalaman pribadi yg paling membekas terkait status saya, adalah ketika kehilangan BF (Boy Friend), kita menjalin hubungan sudah 5 tahun, dia meninggal pada bulan Mei 2017 kemarin, saya mengenal dia secara tidak sengaja ketika tes masuk salah satu universitas di Jogja pada tahun 2012, setelah tahu masing-masing memiliki orientasi seks yg sama, kita memutuskan untuk menjalin hubungan, kemudian kita sama-sama diterima di salah satu perguruan tinggi negri di Kota Bandung dan memutuskan untuk tinggal bersama. Hal yg membuat kepergian untuk selamanya membekas di hidup saya adalah karena tidak bisa memaafkan diri saya atas kematiannya.

Karena perilaku saya dulu yang suka selingkuh, saya dulu memiliki prilaku yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Saya menikmati ML (Making Love) dengan strangers, suka gonta ganti pasangan, karena hal itulah saya suka mencuri waktu ketemuan dengan strangers di belakang dia ketika dia kuliah meskipun saya sayang sama dia, dahulu pandangan terhadap sayang adalah hal yg berhubungan dengan hati dan perasaan, jd meskipun saya ML dengan strangers selama tidak menggunakan hati dan perasaan, menurut saya perbuatan dulu itu bukan selingkuh, tapi balik lagi itu adalah pandangan keliru saya yg berunjung pada penyesalan terbesar dan lebih parahnya saya bertemu strangers acap kali tidak menggunakan pengaman, karena wawasan saya terkait HIV minim sekali dan tdk mau mencari info terkait HIV. Menurut saya HIV adalah hal yg sangat menyeramkan dan kalau bisa sama sekali tidak mendengar istilah itu dan ternyata hal itulah yang menjauhkan saya dari rutin tes HIV, yg sebenarnya rutin tes per 3 bulan sekali sangat penting karena saya ada faktor resiko serta menjauhkan dari proteksi dini terhadap HIV itu sendiri.

Dulu saya berpikir bahwa gay memiliki tingkat penularan HIV yg tinggi merupakan dogma dari pemerintah dan tenaga medis agar mereka yg gay segera bertobat tapi ternyata itu salah, itu hanya pembenaran bagi saya yg dulu agar tetap berprilaku resiko saja. Dan ternyata ketakutan dulu untuk mendengar dan mencari info HIV justru membawa saya yang sekarang dalam kondisi orang dengan status HIV positif, sangat eronis memang, dan perilaku buruk telah berdampak kepada orang yang sangat saya sayangi dan menyayangi saya, orang yang sangat rela berkorban demi saya, orang yang hanya membutuhkan untuk dapat bahagia dalam hidupnya, orang yang pertama kali ML dengan laki-laki dan itu gw. Type pacar yang setia, dan itu bukan saya, jelas bukan saya. Awal saya tes HIV itu bulan April lalu, karena dia menyuruh saya buat tes sebabnya adalah dia mulai sakit-sakitan, gejala typus yang tidak kunjung sembuh dan batuk yang terus menerus sembuh2.

Awal saya dinyatakan HIV positif, bukan kondisi yg saya pikirkan, tapi kondisi dia yg saya khawatirkan, setelah tahu status saya langsung mencari info seputar HIV dan mencari komunitas yang concern di isu HIV untuk dapat memberi motivasi dan menguatkan saya dengan kondisi baru dan status saya ini yang kemudian sangat dibutuhkan untuk dapat menguatkan balik BF yang drop kala itu.

Singkat cerita dia semakin drop, saya sempat merawat dia selama dia dirawat dirumahnya, karena kebetulan keluarga dia tdk sepenuhnya menerima kondisi dia, otomatis saya full yang merawat dia. Selama dua minggu saya rawat, tetapi salahnya saya terlalu memaksakan diri untuk merawat dia dan saat itu terapi ARV saya masih ditahap Cotri, hingga akhirnya saya drop disaat dia sudah mulai membaik, gantian saya yang dilarikan ke rumah sakit, seminggu saya dirawat di rumah sakit dia meninggal.

Dua jam sebelum dia meninggal, dia masih sempat mengubungi saya dan menanyakan kondisi saya, dua jam setelah itu, kakaknya mengabarkan kalau dia sudah tidak ada, saya bingung dan hampir mau teriak tapi tidak bisa, sekarang saya harus membiasakan tanpa dia disisa hidup saya ini, dan itu yang membuat saya semakin merasa depresi di Bandung ini.

Hingga akhirnya aku mengenal eseorang dari Puzzle Indonesia diajak bergabung dengan kDS Puzzle Club agar dapat mengenal teman-teman yang senasib dengan saya dan itu buat saya sedikit demi sedikit dapat melupakan kesedihan kehilangan BF dan juga karena status HIV saya.

Semenjak mengetahui status saya yg baru ini, saya selalu menanamkan mindset bahwa saya adalah orang yang beruntung dan harus lebih banyak bersyukur, karena diluar sana masih byk kondisi penyakit yg lebih parah, yg harus dikemoterapi hingga rambut rontok, yg harus menyuntikan insulin setiap kali sebelum makan, which is tiga kali sehari dan saya hanya minum obat sekali dalam sehari masa masih ga disiplin, masa masih mengeluh, toh ini adalah resiko yg saya perbuat sendiri, ditambah saya dengan kondisi ini lebih menjaga pola hidup, pola makan, prilaku dan semakin meningkatkan nilai spritual saya, karena saya yakin teguran Tuhan bisa dalam segala bentuk dan segala cara untuk hamba2nya, saya masih dapat bermanfaat untuk org disekitar saya dan saya masih memiliki kesempatan untuk membanggakan dan membahagiakan mereka khususnya keluarga saya.

Ucapan terimakasih kepada seluruh rekan-rekan Puzzle Indonesia dan KDS Puzzle Club, khususnya Mas Joko, dr. Ronald, dr. Dita, Bunda Abe, Kang Affan, Charis, Kang Wawa, Turip, Ko Andy, Ateps, Toni, Alkahfi, Kang Yahya yang sempat, pernah dan selalu menguatkan serta teman-teman yang lain dan senasib dalam membantu gw di awal-awal gw bergabung di Puzzle hingga sekarang.

#perkumpulanpuzzleindonesia #kdspuzzleclub #sharesupportpuzzle #sahabatpuzzle #bringtocomplete

True Story by : Nbs
Editor by : Abbe